< MTs. Daru'l Hikam Cirebon

Warna Suara Farisya Alya Latifa – Peserta Didik Kelas IX – Pemenang Pertama Lomba Menulis Cerpen dalam rangka HUT ke 80 RI di MTs. Daru’l Hikam Cirebon Tahun 2025

Assalamu'alaikum Wr.Wb

Senja terasa lebih lama dari biasanya. Lampu jalanan mulai menyala hingga mataku menangkap sosokmu, seorang perempuan yang tengah berdiri di samping perempatan jalan, dengan mata yang tertutup sambal memegangi tongkat, kepalamu sedikit menunduk….. seolah sedang mendengarkan ramainya lalu lintas itu. Aku tidak tahu kenapa aku melangkah mendekat. ‘’Boleh saya bantu?’’ suaraku sendiri bahkan terdengar asing di telinga. Kau mengangguk, tanganmu terulur hangat, ringan kita akhirnya menyebrang tanpa banyak kata. Di sebrang, rasa penasaranku tentangmu tak bisa lagi ku hiraukan. Aku bertanya,’’ Apa kau buta?’’ Kau dengan tenang melepas tanganku perlahan dan tersenyum. Anehnya senyummu menjadi sesuatu yang berbeda bagiku. ‘’Aku tidak buta, aku hanya tidak bisa melihat’’. Matamu yang tertutup itu ikut tersenyum, kemudian berkata pelan. ‘’Saat mendengarkanmu sekali lagi, suaramu seperti biru tua’’. Aku tidak mengerti maksudmu, tapi yang pasti Aku ingin tahu lebih. Beberapa hari kemudian, rasanya sudah seperti rutinitasku untuk membantumu menyebrang. Seolah tahu aku mendekat, dan hanya beberapa langkah darimu, kau memanggil namaku, ‘’Elan’’ kau sudah tidak menggunakan tongkat lagi, karena aku sudah berada di sampingmu. Aku akan menjadi tongkatmu kemanapun kau pergi, dan aku akan menjadi matamu untuk melihat dunia ini. ‘’Oh. Emma…. Kenapa kau tahu aku sedang menuju ke arah mu?’’ ‘’ Aku tahu karena suara langkah kakimu yang hijau itu sudah mencapai telingaku.’’ Aku tertawa pelan, dan kau mulai melingkarkan lenganmu padaku.’’ Perhatikan langkahmu, ayo kita menyebrang ‘’pipimu yang merah kembali menghangatkan senja ku. Kau bersemangat gemas’’.’’ Baik pak polisi’’ Aku mulai merekam suara-suara alam, ombak, angin yang mengenai daun yang lainnya agar aku bisa memberikannya padamu. Agar aku bisa melihat kau yang mendeskripsikan warna-warna suara itu. Agar aku bisa melihat dirimu yang Bahagia. Aroma sore membawa tanah basah. Kita duduk bersebelahan di dekat jendela kantor POS, jendela yang biasa membantu mataku untuk mencari-cari sosokmu itu, dari pantulan jendela kaca, aku bisa melihat wajahmu yang tenang dan kelopak matamu yang senantiasa tertutup seperti biasa. Terkadang aku bingung dan menganggapmu sedang tertidur setelah aku tanyakan. Kau menjawabnya dengan sedikit nada tahan tawa, tapi pada akhirnya kau pun terkekeh pelan. ‘’itu keahlianku, Elan!’’ ‘’Kau memang ahli dalam membuat hatiku kacau, Emma.’’ Dan sejenak, kita membiarkan keheningan berbicara. Aku mengabadikan sosokmu jauh lebih dalam hatiku. Rasa yang selama ini aku abaikan memberontak dengan keras, lalu keluar lewat mulutmu. ‘’Aku mencitaimu, Emma semua yang ada pada dirimu aku mencintainya, dan izinkan aku untuk mencintaimu dengan ini semua.’’ 10 tahun berlalu dan aku masih sering berkunjung ke makam mu. Membawa tiga bunga kesukanmu seperti biasa. Aku harap di sana dirimu tahu apa artinya bunga ini. Aku masih memiliki rasa bersalah itu. Emma, aku telat menjemputmu di sebrang…… aku terlambat, semoga di kehidupan ku duka kita, aku ada bersamamu dalam artian lewat bunga dan tindakanku… Aku mencintaimu, selalu selamanya.

Warna Suara Ikatan Perjanjian dalam Persahabatan

Rafika Devi Hadianty – Peserta Didik Kelas VII – Pemenang Kedua Lomba Menulis Cerpen dalam rangka HUT ke 80 RI di MTs. Daru’l Hikam Cirebon Tahun 2025

Di sebuah desa kecil hidup dua sahabat yang bernama Caca dan Al. Mereka sudah bersahabat sejak memakai popok, mereka tumbuh besar Bersama mulai dari belajar berjalan bersama, belajar memakai pakaian bersama dan lain-lain. Masa SD mereka pun tiba, sekarang mereka sudah berumur 7 tahun. Hari senin mereka berangkat bersama menuju Sekolah, sampai di Sekolah mereka berjalan bersama menuju kelas dan ternyata mereka satu kelas yaitu kelas 1B. Di hari pertama Sekolah tentu mereka memperkenalkan diri ke teman-teman baru di kelasnya. Mereka bermain bersama, saat mereka sedang asik bermain dering bel Sekolah berbunyi yang menandakan saatnya pulang, lalu mereka pun pulang bersama. Masa-masa remaja mereka pun tiba, kini mereka merasa sudah agak asing. Entah kenapa sekarang Al lebih sering bermain dengan teman SMP nya ‘’usap Caca dengan raut muka yang sedih dan kecewa’’. Sekarang Caca sibuk mengikuti organisasi di Sekolahnya, karena Caca belum terbiasa dengan hari-harinya yang cukup padat dan menguras tenaga, Ia menjadi sering sakit karena kecapean. Al yang mendengar kabar itu langsung panik dan ingin langsung menjenguk Caca di Rumahnya. Al sangat khawatir mendengar kabar Caca yang sekarang sedang terbaring di kasurnya. ‘’ Kamu kok bisa tiba-tiba sakit Ca?’’ Kecapean ya?’’ ucap Al. Caca bilang ‘’iya nih hehe, akhir-akhir ini aku sibuk ikut organisasi Sekolah. Aku ingin main, tapi sekarang kamu lebih sering main dengan teman SMP mu’’. ‘’Sudah aku bilang jangan terlalu cape karena pasti kamu akan sakit seperti ini, omong-omong soal aku yang sekarang lebih suka bermain dengan teman SMP ku, aku hanya ingin berkenalan dengan lebih dalam, Ca.’’ Ayo kita main lagi sesudah kamu sehat kembali ya’’. Ucap Al sambal meyakinkan jika ia tidak akan meninggalkan Caca. Beberapa hari kemudian Caca sudah sehat dan kembali sekolah bersama Al sesuai yang Al bilang, ia akan mengajak Caca bermain saat Caca sudah sehat, lalu mereka pun bermain dan jalan-jalan mengelilingi desa. Ditanggal 21 April Caca berulang tahun, Caca merayakan bersama Al dengan sederhana hanya duduk di pinggir sungai sambal mengobrol berdua berasama Al. ‘’Ca… persahatan kita sudah lebih dari 20 tahun kita sempat asing dan sekarang kembali bermain bersama seperti dulu, ingat tidak kita pernah memancing bersama di sungai ini, haha…. Dulu kita konyol sekali ya?’’ ucap Al sambal menertawakan kekonyolan mereka dulu. Caca menjawab ‘’ iya, kita seperti sudah ditakdirkan bersahabat ya…? iya aku ingat saat kita memancing di sungai ini.’’ Al berkata ‘’semoga kita selalu bersama sampai tua nanti ya, Ca.’’ ‘’ iya semoga kita bisa bersahabat sampai selamanya, jawab Caca. Persahabatan mengajarkan kita untuk lebih mengenal kita satu sama lain.

Nyawa untuk Indonesia

Fakhira Ghaniya – Peserta Didik Kelas IX – Pemenang Ketiga Lomba Menulis Cerpen dalam rangka HUT ke 80 RI di MTs. Daru’l Hikam Cirebon Tahun 2025

‘’ Merdeka! Merdeka! Merdeka! Sorak para pejuang kemerdekaan dan rakyat Indonesia. Mendengar bahwa bendera Indonesia telah berkibar dengan bebas. Siapa sangka hari itu Adalah mimpi, kabar dan cerita baik untuk seluruh rakyat serta pejuang kemerdekaan Indonesia. Jerih payah para pejuang, suara para rakyat dan Lelah yang terurai, kini terbayarkan dengan dikumandangkannya proklamasi. Merdekanya Indonesia Adalah karena jerih payah, sorak sorai para rakyat dan Kerjasama untuk hasil yang maksimal. Dengan ini, para pejuang berharap Indonesia akan melahirkan generasi emas yang bisa melanjutkan perjalanan Indonesia. 17 Agustus 2023, pagi hari yang cerah, matahari menyinari kabut tipis, tinggi sinar bak cakrawala. Murid yang ada di SMP 05 Jakarta melaksanakan upacara kemerdekaan bersama di lapangan. Bendera merah putih terkibar, UUD dibacakan, lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Semua murid antusias menyambut hari kemerdekaan Indonesia. Hari itu terasa tenang, nyaman dan damai. Pak Adi selaku Kepala Sekolah menjadi Pembina upacara, Pak Adi menyampaikan bahwa kemerdekaan Indonesia sulit untuk didapatkan. ‘’Merdeka Adalah sesuatu yang sulit digapai para pejuang Indonesia pada saat itu. Bayangkan bagaimana kerasnya, sulitnya dan bagaimana perjuangan para pahlawan untuk memerdekakan Indonesia. Jerih payah yang sulit, keringat yang bercucuran, bahkan darah yang bertumpahan telah dirasakan oleh para pejuang kemerdekaan. Merdeka bukan suatu yang mudah, bukan suatu yang gampang, bahkan para pahlawan rela meninggalkan keluarganya untuk memperjuangkan kemerdekaan. Dengan kemerdekaan ini, para pejuang berharap Indonesia akan menciptakan generasi emas, pelanjut bangsa dan pemuda yang bisa melestarikan Indonesia, karena ini ayo kita ciptakan kerukunan, kedamaian serta kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia. Sama hal nya seperti Pancasila yang ke -2’’ kemanusiaan yang adil dan beradap’’. Kita sebagai rakyat Indonesia harus menghargai perjuangan yang di gapai oleh para pahlawan kita. Kita harus mempunyai adab dan perilaku yang mencerminkan jati diri bangsa Indonesia. Marilah kita sama-sama menciptakan generasi penerus bangsa demi negara kita, Indonesia.’’ Ucap pak Adi dengan lantang’’. Dengan pesan yang telah disampaikan Pak Adi, para murid jadi tahu bagaimana sulitnya meraih kemerdekaan. Upacara telah selesai, para siswa Kembali ke kelas untuk belajar seperti biasa. Semua murid Kembali ke kelas, di kelas Budi ada murid pindahan dari luar negeri Bernama Michele, Michele sama sekali tidak mengerti tentang Indonesia. Budi berniat ingin mengajarkan Michele Bahasa Indonesia dan Sejarah Indonesia, dengan perasaan yang senang Budi mengajarkan Michele sampai mengerti tentang Indonesia. Pak Adi yang melihat Budi yang dengan senang hati mengajarkan Michele sangat bangga Indonesia ternyata masih mempunyai banyak anak hebat yang tahu Sejarah Indonesia. Michele sampai tahu isi proklamasi kemerdekaan Indonesia betapa tulusnya Budi kepada Michele. Menyerah memang mudah, namun kita tidak akan tahu bagaimana pengalaman yang dialami oleh para pejuang, dan kita patut mengapresiasinya.

Wassalamu'alaikum Wr.Wb

22/09/2024 14:00 WIB - MTs. Daru'l Hikam Kota Cirebon